Pagi itu saya breakfast di Westin Hotel di Rasuna Said. Sebut saja namanya Bertrand, seorang investor yang banyak pengalaman di dunia bisnis. Dia pernah menjadi CEO di 3 perusahaan di 3 negara yang berbeda. Dan ternyata pagi itu saya belajar banyak sekali dari Bertrand (menurut saya, beliau sosok lelaki yang sukses).

Bertrand bercerita bahwa sekarang dia berusia 70 tahun (dan masih sehat). Waktu dia lulus universitas, bumi ini dihuni oleh 3 Milyard manusia. Sekarang bumi dihuni oleh 7 Milyard manusia. Dan pada saat anak lelaki kita nanti lulus universitas, bumi akan dihuni oleh 9 milyard manusia.

Apa maksudnya ? Berarti kompetisi akan semakin lama semakin keras. Baik itu kompetisi untuk masuk di universitas terbaik ataupun kompetisi untuk mendapatkak job terbaik (setelah anak anak kita diwisuda nanti).

Ya wajarlah, penghuni bumi semakin banyak, buminya ukurannya sama, sumberdaya alamnya makin menurun (karena diambil terus-terusan). Berarti kompetisi akan semakin ketat.

Kalau anda lulusan universitas terbaik, atau kalau anda mendapatkan job di perusahaan terbaik, tanyakan kepada anda sendiri apakah anak laki-laki anda nanti akan diterima di universitas terbaik dan mendapatkan job di perusahaan terbaik?

Kenapa? Kompetitisi semakin sulit. berarti untuk memenangkan kompetisi yang semakin sulit, anak anak kita harus bekeja lebih keras daripada kita dulu? Yakinkah kita bahwa anak-anak kita bekerja lebih keras daripada kita?

Karena banyak sekali di antara kita yang mendapatkan pekerjaan terbaik (dengan kesibukan yang mapan), dan cenderung memanjakan anak-anak dengan apa yang mereka mau (termasuk gadget mutakhir), dan ternyata itu justru mengurangi jam belajar mereka?

Kalau mereka tidak terbiasa bekerja keras dari kecil, bagaimana mereka akan memenangkan kompetisi yang jauh lebih sulit (ingat, melawan 9 milyard manusia di bumi ini).

Banyak orang tua yang sudah menabung uang banyak banyak di bank (baik tabungan maupun asuransi pendidikan). Dananya disiapkan, tetapi apakah otak anak-anak kita juga disiapkan? Jleb!

Ingat bagaimana anda dulu harus bekerja keras untuk mencapai kehidupan yang sekarang? Anak-anak anda harus berjuang, bekerja dan belajar lebih keras lagi!

Baca juga: Unik, Kunci Sukses dalam Bisnis

Masalahnya banyak orang tua yang karena kesibukan (kariernya) cenderung memberikan fasilitas kepada anaknya (hidup yang nyaman, pembantu, sopir, gadget …etc).

Karena mereka dulu merasa hidup susah, dan tidak ingin anak anaknya hidup susah lagi.

Karena mereka sibuk dengan kariernya, mereka berusaha menebus dosa dan memberikan segala fasilitas. Mereka lupa bahwa dengan melakukan itu mereka “menghancurkan” masa depan mereka.

Anak-anak lelaki kita perlu semangat kerja dan kerja keras yang lebih tinggi dari kita. Kan kompetisinya akan lebih keras?

Makanya mereka, terutama anak laki-laki kita, harus lebih “susah” daripada kita.

Karena sebenarnya yang lebih penting untuk memenangkan kompetisi di masa depan itu, bukanlah kemahiran bermain budget, bukanlah kemampuan akademis yang jago, bahkan sebenarnya bukan ijasah dari universitas ternama (saya mengenal banyak CEO yang dari universitas biasa-biasa, dan saya juga mengenal banyak teman yang dari universitas ternama tapi kariernya gak kemana-mana).

Yang akan menentukan daya kompetive mereka nanti adalah daya juang mereka, semangat pantang menyerah, fighting spirit!

Dan itu hanya bisa dibentuk kalau sejak kecil anak anda dibiasakan bekerja keras! Bukan dimanjakan dengan dikasih gadget mutakhir, dengan semuanya dikerjakan oleh pembantu, dan dimanjakan oleh orang tuanya!

Di sinilah pentingnya mengajak dan mendorong mereka bekerja keras, “hidup susah”, agar mereka tahan banting dan itu akan membuat mereka mempunyai semangat juang yang tinggi!

Ingat , saya tidak bilang bahwa anda tidak boleh memberikan gadget kepada anak-anak anda, saya juga gak bilang bahwa keluarga anda gak boleh punya pembantu.

Saya bilang it is okay kalau anda memberikan fasilitas kepada anak-anak anda, tetapi fasilitas itu harus diimbangi dengan dorongan anda untuk bekerja keras!

Jadi bagaimana dong menyeimbangkannya? Ikuti kelima rekomendasi di bawah ini …

1. Understand Their Dreams

Coba pahami di mana passion mereka. Apa cita cita mereka di masa depan. Ingat anak anak anda bukanlah foto copy anda. Anak anak anda juga bukan korban masa lalu anda.

Banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk mendalami profesi orangtuanya, atau memaksa anaknya karena kegagalan orang tua di masa lalu (contoh memaksa anak menjadi pilot atau dokter, padahal belum tentu itu yang dimaui anaknya).

Biarkan anak anak anda membangun mimpi mereka sendiri, agar mereka lebih bersemangat untuk mengejar mimpi mereka!

2. Help Them To Build The Path To Reach Their Dreams

Setelah anak anda jelas mimpinya mau menjadi apa, sekarang bantulah untuk menjelaskan jalan apa yang harus ditempuh agar cita-cita tersebut bisa tercapai!

Misalnya kalau ingin menjadi arsitek yang baik, berarti harus dari sekarang belajar keras agar masuk jurusan yang sesuai di SMA, kemudian juga rajin berlatih menggambar.

Kemudian setelah itu, ya harus belajar keras lagi agar nanti diterima di universitas yang bagus.

3. Motivate Them to Work Hard

Motivasi mereka agar mereka mau (dan dengan kesadaran mereka sendiri), mereka mau rajin belajar dan bekerja keras!

Gambarkan pada mereka betapa menyenangkannya hidup mereka kalau berhasil mencapai cita-cita mereka.

Mereka akan sukses, dihormati orang, dengan penghasilan yang tinggi sambil mengerjakan sesuatu yang mereka sukai!

Bandingkan dengan sebaliknya, harus bekerja siang malam, melakukan sesuatu yang gak mereka sukai, penghasilan minim dan belum tentu dihormati orang lain.

Kasih tahu mereka bahwa pilihan itu ada di tangan mereka sendiri!

4. Balancing The Hardwork And The Rewards

Now we come to the hard part.

Di sini anda harus menyeimbangkan antara orang tua yang “penyayang” dan orang tua yang “tegas”.
Percayalah bahwa kedua-duanya dibutuhkan oleh anak-anak anda.

Kalau anda hanya bisa memainkan peran “penyayang” nanti anak anda tidak akan bekerja keras dan sudah berkompetisi di masa depan.

Kalau anda hanya bisa memainkan peran “tegas dan keras” mungkin anak anda akan rajin belajar, tapi ternyata nanti akan stress karena tingginya pressure yang mereka terima.

Seimbangkan kedua peran itu, lakukan kedua-duanya di saat yang tepat.

5. Be A Role Model, Give Them Good Examples

Terakhir, dan yang paling penting, kalau anda ingin anak-anak anda melakukan sesatu ya berarti anda harus melakukannya terlebih dahulu agar anak anak anda juga mencontohnya.

Misalnya kalau anda ingin anak-anak anda membatasi waktu mereka di gadget, ya mungkin sudah waktunya anda mengurangi jumlah WA group anda yang 30-an itu ( 5 group alumni universitas, 2 group keluarga, 2 group tetangga, 5 group SMA, etc.)

Kalau anda ingin anak anda rajin membaca dan belajar ya kalau ke toko buku anda minimal harus beli dua buku, satu untuk anda dan satu untuk anak anda.

The change starts from yourself. Perubahan itu dimulai dari diri anda sendiri, sebelum anda menyuruh anak anda berubah!

Jadi ingat ya, agar anak-anak anda lebih mampu bersaing di masa depan yang akan semakin kompetitive, lakukan kelima langkah ini …

1. Understand Their Dreams
2. Help Them To Build The Path To Reach Their Dreams
3. Motivate Them To Work Hard
4. Balancing Their Rewards
5. Be A Role Model, Give Them Good Examples

Dan ternyata seringkali yang paling sudah adalah yang terakhir, bagaimana menjadi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak kita.

Because change wont happen, unless the change starts from ourselves!

Salam Hangat,

Tulisan ini ditulis oleh Pambudi Sunarsihanto melalui laman facebooknya, dipublikasikan ulang dengan pengubahan seperlunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *