Inspirasi

Pelajaran Berharga Sang Burung Elang

Di musim gugur, ketika hari semakin memendek, malam semakin dingin, dan perairan danau semakin liar, seekor itik melewar jantan...

· 2 min read >
pelajaran berharga dari burung elang

Di musim gugur, ketika hari semakin memendek, malam semakin dingin, dan perairan danau semakin liar, seekor itik melewar jantan dan pasangannya mengumpulkan keluarganya. Mereka berdiri di tepi ujung utara danau dan menengadah menatap senja. 

“Esok pagi kita akan berangkat ke selatan,” kata sang ayah itik. “Sudah tiba waktunya membawa kalian ke tempat yang lebih hangat, ke tempat-tempat yang belum pernah kalian lihat. Kita akan pergi bersama-sama. Bersiaplah di subuh nanti.”

Anak-anak itik itu saling berbincang. Serpihan es dan salju di darat membuat mereka kedinginan, dan mereka gembira bahwa mereka akan pergi ke tempat yang lebih hangat. Jadi keesokan paginya, ibu mereka membangunkannya dan memimpin mereka ke langit, menjalani bagian pertama dari perjalanan panjang mereka. Satu persatu anak itik mengikutinya, berlayar ke langit biru yang cerah. Sang ibu berada di ujung barisan V dan sang ayah terbang di paling belakang. Ia mengawasi anak-anaknya yang terkecil, yang terkadang tertinggal.

“Ayo, jangan bonyot,” teriaknya sambil mengepakkan sayapnya kuat-kuat untuk menggerakan mereka maju. Sang ayah terkenal sebagai pembual, dan sambil terbang ia berseru kepada anak-anaknya, “Perhatikan ibumu, tetapi dengarkan aku, aku banyak tahu. Aku telah lama hidup dan hebat”. Sang ibu hanya mengangkat matanya ke atas. Ia sudah biasa dengan bualan suaminya, tetapi terkadang ia menoleh dan memelototi suaminya, “Hemat saja nafasmu untuk penerbangan”.

Mereka terbang sepanjang siang, jauh di atas hutan pinus yang lebat, dan ladang gandum yang luas. Mereka terbang melintasi sungai dan lembah yang membeku. Mereka terbang sampai matahari telah turun ke kaki langit dan mereka menjadi sulit untuk melihat, tetapi jauh di bawah, mereka melihat rantai danau yang berkilauan, dan mereka menuju ke sana.

Sang ibu memimpin keluarganya terbang setengah lingkaran, semakin lama semakin rendah, dan berhati-hati terhadap musuh. Manusia terkadang berbahaya, dan ia hanya menginginkan keselamatan anak-anaknya. Pada akhirnya mereka mendarat, satu per satu, di permukaan danau yang halus. Tetapi begitu anak itik terakhir mendarat, sang ibu mendengar desingan di udara, dan ia berteriak. “Awas, awas!” saat ia melihat seekor elang besar meluncur ke arah mereka dengan satu sayap terangkat tinggi-tinggi.

Anak-anak itu segera berpencar karena mereka masih kevil dan gesit. Tetapi sang ayah tersambar saat ia mendarat. Untuk sesaat anak-anak itik memandang ketakutan saat udara dipenuhi dengan apa yang tampak seperti salju, tetapi mereka tahu bahwa itu adalah bulu-bulu.

Kekuatan sambaran itu membuat sang ayah terputar-putar, tetapi beberapa saat kemudian ia sudah terbang lagi dengan kuat dan bangga. Ia berteriak gembira akan keberhasilannya saat ia melihat elang jatuh ke air di bawah.

Elang itu mendarat, tetapi ia tahu bahwa sayapnya telah patah dan ia tidak bisa terbang lagi. Ia menemukan batang katu yang berlubang dimana ia bisa bersembunyi dari rubah dan berburu tikus untuk makanannya. Ia paham ia akan menghabiskan seluruh musim dingin di tempat itu.

Sementara itu setelah itik-itik beristirahat, pagi harinya ia terbang lagi ke selatan. Musim dingin datang dan pergi, dan elang itu berhasil bertahan hidup. Ketika terang kembali ke daratan dan mendatangkan kehangatan, elang mulai menguji sayapnya yang patah. Sayap itu lemah tetapi ia bisa sedikit terbang. Ia mulai berlatih, dan ketika matahari semakin tinggi, ia mulai melihat itik dan angsa pulang ke rumah. Ia berhati-hati untuk tidak menantang mereka, ia masih terlalu lemah.

Pada suatu hari, segerombolan itik melewar mendarat sangat dekat dengan pohonnya, dan saat mereka beristirahat, ia mendengarkan dengan cermat, dan ia mendengar sang ayah itik sedang berbual tentang tempat itu. 

“Disinilah elang menyambarku, tetapi aku lebih cepat dan kuat, dan aku membuat ia jatuh ke tanah karena aku sangat berani! Aku yakin sekarang ia sudah lama mati. Dan siapapun tidak akan bertahan menghadapi musim dingin tanpa bisa menggunakan sayapnya.”

Suara bualan sang ayah itik memicu kemarahan elang, dan ia lari keluar dari tempat persembunyiannya dan mengejar ayah itu. Anak-anak itik berpencaran, berteriak dan menangis sambil berusaha terbang ke langit. Tetapi elang tidak berminat pada anak-anak itik. Ia mengejar sang ayah, berputar-putar dengan cepat sampai akhirnya ia berhasil mengejar dan mematahkan sayap ayah itik dengan pukulan kuat.

Anak-anak itik berteriak kepada sang ayah, tetapi elang berseru kepada mereka, “Berhati-hatilah, anak-anak! Pelajarilah pelajaran yang sudah terlambat untuk ayah kalian: Jangan biarkan keangkuhanmu menguasai kata-katamu”.

*Source: Majalah Media Kawasan – CariBagi.id

mental orang kaya

10 Mental yang Dimiliki Orang Kaya

Hello.web in Inspirasi
  ·   1 min read
cara mendidik anak dalam islam

Cara Mendidik Anak dalam Islam

Hello.web in Inspirasi
  ·   3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *