Museum Fatahillah atau Sejarah Museum Jakarta adalah salah satu bangunan sejarah yang berada di tengah kota Jakarta. Museum Fatahillah terletak di Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat. Museum ini menyimpan cerita sejarah pada zaman penjajahan Belanda. Museum Fatahillah merupakan salah satu tujuan wisata sejarah yang cukup menarik untuk dikunjungi.

Jejak Sejarah Museum Fatahillah

Balai Kota Batavia pertama kali dibangun pada tahun 1620 yang terletak di sebelah timur Kali Besar. Akan tetapi, bangunan ini hanya bertahan selama 6 tahun. Pada tahun 1626, Balai Kota harus dibongkar untuk menghadapi serangan dari pasukan Sultan Agung Kesultanan Mataram.

Pada tahun 1627 Gubernur-Jenderal Jan Pieterszoon Coen memerintahkan membangun kembali balai kota. Pembangunan balai kota ini terletak di Nieuwe Markt atau disebut dengan Taman Fatahlilah atau Sejarah Museum Kota Tua. Namun pada tahun 1648, keadaan tanah di kota Batavia tidak stabil yang mengakibatkan balai kota perlahan turun dari permukaan tanah.

Untuk ketiga kalinya balai kota mengalami pembongkaran. Pada tahun 1707 oleh Gubernur-Jenderal Joan van Hoom dibangun kembali. Balai kota diresmikan pada tanggal 10 Juli 1710 oleh Gubernur-Jenderal Abraham van Riebeeck.

Koleksi Museum Fatahillah

Di dalam Museum Fatahillah banyak terdapat barang peninggalan sejarah yang sangat menarik. Diantaranya Prasasti Ciaruteun yang merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara. Adanya patung Dewa Hermes yang merupakan mitologi Yunani.

Selain itu, tersimpan juga lukisan Gubernur Jenderal VOC HINDIA Belanda dari th 1602-1942. Ada juga sel tahan Untung Suropati (1670) – dan Pangeran Diponegoro (1830) serta tersimpan pula Meriam Si Jagur.

Di dalam Museum Fatahillah juga terdapat koleksi alat pertukangan dan senjata di zaman prasejarah serta berbagai macam koleksi mebel antik peninggalan abad 17 hingga abad 19.

Fungsi Museum Fatahillah

Museum Fatahillah berapa kali mengalami peralihan fungsi. Gedung ini pernah berfungsi sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 1925-1942. Sebagai kantor pengumpulan logistik Dai Nippon pada th 1942-1945. Pada tahun 1952-1968 berfungsi sebagai markas Komando Militer Kota/Kodim Jakarta Barat.

Pada tahun 1968 gedung ini resmi diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974 oleh Bp. Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Tata Ruang Museum Fatahillah

Di dalam ruangan Museum Fatahillah terdapat beberapa ruangan yang berisikan koleksi yang dipamerkan sesuai periode asalnya. Diantaranya terdapat Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Tamrin.

Pembagian ruangan serta penataan koleksi sangat memperhatikan aspek artistik. Hal ini bertujuan agar dapat berfungsi optimal sebagai sebagai sumber informasi masyarakat.

Hanya sebagian koleksi dipamerkan ke publik, sisanya disimpan di ruang penyimpanan. Koleksi yang dipamerkan di setiap ruangan dirotasi secara berkala sehingga dapat dilihat oleh pengunjung.

Legenda dan Cerita Mistis dari Museum Fatahillah

Museum Fatahillah merupakan landmark dari Kawasan Kota Tua. Mulai abad 17 sampai abad 19 bangunan ini merupakan pusat aktivitas rakyat. Di halaman depan balai kota terdapat mata air bersih yang dimanfaatkan oleh rakyat.

Namun ada fungsi lain dari balai kota yang sedikit membuat merinding bagi yang mendengarnya. Yaitu sebagai tempat pembantaian massal dan pelaksanaan hukuman mati. Pada masa itu Gubernur Batavia Adrian Valkcenier memerintahkan untuk membantai orang-orang Tionghoa di depan balai kota.

Pembantian itu dikenal dengan nama Geger Pacinan. Hal itu terjadi karena adanya isu ekonomi dan politik yang berkembang di Batavia pada masa itu. Konon dengan adanya peristiwa itu, sering terdengar suara tangisan, suara teriakan histeris dan suara ramai di sekitar tempat dilakukannya pembantaian tersebut.

Disamping adanya cerita-cerita mistis tersebut, Museum Fatahillah haruslah tetap kita junjung dan jaga nilai-nilai sejarahnya. Serta  menjadikannya tempat  tujuan wisata sejarah yang wajib dikunjungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *